Mengapa religiusitas seseorang dinilai akan mempengaruhi logikanya? Apakah seseorang yang religius hanya akan berdoa sepanjang hari untuk menghasilkan materi di depan mata? Saya kira religiusitas seseorang bukan alasan untuk menjadi tidak logis.
Saya kira sangat logis ketika seseorang percaya dan yakin bahwa Tuhannya akan menyelamatkannya. Saya kira tidak ada yang salah ketika seseorang dalam kesulitan, kesesakan yang teramat sangat, memohon bantuan pada Tuhannya. Saya kira semua agama meyakini bahwa Dia menyayangi umat-Nya dan menyediakan pertolongan bagi mereka yang berseru kepada-Nya. Lalu mengapa harus mengatakan orang-orang yang religius tidak mampu melihat realitas?
Jika ada seseorang yang berseru memohon pertolongan Tuhan, namun dia tidak melakukan usaha apapun; baiklah saya akan mengatakan dia pemalas. Ketika seseorang tidak mau berobat walaupun memiliki uang untuk pergi ke dokter dan mendapat pengobatan terbaik sementara dia justru makin merusak kesehatan dirinya dengan mengharapkan mukjizat Tuhan yang akan menyembuhkannya; baiklah saya katakan dia tidak realistis karena menyia-nyiakan apa yang sudah disediakan Tuhan baginya.
Namun, sungguh, saya tidak mengerti mengapa seseorang harus menghubungkan religiusitas seseorang dengan kemampuan orang tersebut melihat realita hidup. Mungkin uang sudah menjadi tuhan baru dalam dunia modern ini. Tapi layakkah segalanya diukur dengan uang? Layakkah kemampuan melihat realita hidup diukur dengan seberapa banyak uang yang mampu dihasilkan?
Saya percaya bahwa Dia Yang Di Atas itu tidak pernah tidur. Dia melihat tiap-tiap orang dan usahanya. Mungkin yang hidupnya lurus di mata-Nya dan bekerja sepenuh hati bergaji pas-pasan. Sementara mereka yang menipu dan melakukan korupsi hidup bergelimang harta. Apakah ini berarti kelompok yang pertama tidak realistis? Apakah ketika kita tetap bekerja dengan sepenuh hati, hidup benar di mata-Nya, dan percaya bahwa Dia akan memelihara kita, berarti kita telah menjadi manusia yang tidak realistis?
Saya tahu bagaimana sulitnya hidup tanpa uang di zaman sekarang ini. Saya tahu bahwa uang hampir menjadi jawaban untuk menyelesaikan segala permasalahan di dunia ini. Ketika dunia menjadi makin tamak, makin culas, makin kejam, uang adalah solusi yang tercepat. Namun layakkah hal itu menjadikan uang sebagai tuhan baru bagi manusia modern?
Dia memiliki cara-Nya sendiri. Pertolongan-Nya tak pernah terlambat. Namun, maukah kita bertahan dalam pengharapan kepada-Nya? Maukah kita tetap setia pada iman dan berserah kepada-Nya? Atau justru mengikuti arus dan memuja tuhan-tuhan baru yang menjanjikan kemudahan duniawi?
Iman adalah mempercayai adanya terang ketika berada dalam kegelapan (lupa dikutip dari mana).
Tuhan, mampukan saya tetap menaruh pengharapan kepada-Mu, berserah pada-Mu saja dan tidak menjadi hamba-hamba uang. Didiklah saya agar tetap setia ketika berada dalam kesukaran, ketika dalam kebahagiaan, bahkan ketika merasa doa-doa saya tidak Engkau dengar. Ajar saya, Tuhan, untuk selalu mencari terang-Mu. Amien.
Tuesday, June 15, 2010
Saturday, April 3, 2010
Toleransi
Toleransi, sebuah kata yang sudah sering didengungkan sejak di bangku SD. Masih ingatkah bagian dari pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ataupun PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang menekankan perlunya toleransi antar umat beragama? Berapa banyakkah yang masih ingat?
Saya ingin membuat Bonek-bonek yang bertebaran di jalan raya tadi untuk belajar pada anak SD tentang apa itu toleransi. Bagaimana mereka harus bersikap sebagai manusia dewasa yang memiliki toleransi. Bagimana mereka harus menggunakan hak tanpa mengganggu kepentingan orang lain.
Saya sangat jengkel pada Bonek yang bertebaran di Surabaya hari ini. Ketika jam misa akan dimulai, Bonek-Bonek itu dengan sengaja mengeraskan suara mesin motornya. Belum lagi mereka yang membawa terompet, meniupnya beberapa kali. Bahkan beberapa dengan sengaja meneriakkan ********** ketika melewati gereja.
Begitukah cara mereka meluapkan dukungan? Baiklah mereka bersemangat mendukung team sepakbolanya, tapi tidak bisakah mereka bersikap lebih dewasa? Bagaimana rasanya jika keramaian itu dipindahkan di tempat mereka beribadah, ketika mereka sedang merayakan hari besar agamanya?
Mungkin masyarakat ini masih butuh belajar tentang toleransi lebih dalam lagi.
Selamat Paskah. Tuhan memberkati...
Saya ingin membuat Bonek-bonek yang bertebaran di jalan raya tadi untuk belajar pada anak SD tentang apa itu toleransi. Bagaimana mereka harus bersikap sebagai manusia dewasa yang memiliki toleransi. Bagimana mereka harus menggunakan hak tanpa mengganggu kepentingan orang lain.
Saya sangat jengkel pada Bonek yang bertebaran di Surabaya hari ini. Ketika jam misa akan dimulai, Bonek-Bonek itu dengan sengaja mengeraskan suara mesin motornya. Belum lagi mereka yang membawa terompet, meniupnya beberapa kali. Bahkan beberapa dengan sengaja meneriakkan ********** ketika melewati gereja.
Begitukah cara mereka meluapkan dukungan? Baiklah mereka bersemangat mendukung team sepakbolanya, tapi tidak bisakah mereka bersikap lebih dewasa? Bagaimana rasanya jika keramaian itu dipindahkan di tempat mereka beribadah, ketika mereka sedang merayakan hari besar agamanya?
Mungkin masyarakat ini masih butuh belajar tentang toleransi lebih dalam lagi.
Selamat Paskah. Tuhan memberkati...
Saturday, February 13, 2010
Untung Masih Hidup
Kejadian menjelang Morning Report ko-ass.
A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa jantungmu. Besok ya takbalikin, tadi lupa takmasukin tas"
B: "Ow, iya gak apa-apa, besok jangan lupa ya"
Dipandang oleh sejawat ko-ass yang ingin tahu bagaimana B bisa hidup tanpa jantung.
*Maksud ucapan A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa buku jantung punyamu,..."
A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa jantungmu. Besok ya takbalikin, tadi lupa takmasukin tas"
B: "Ow, iya gak apa-apa, besok jangan lupa ya"
Dipandang oleh sejawat ko-ass yang ingin tahu bagaimana B bisa hidup tanpa jantung.
*Maksud ucapan A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa buku jantung punyamu,..."
Sunday, January 17, 2010
Untung Bukan Lavement
Kalau sedang jaga, tentu yang dikerjakan pertama adalah mengecek pasien-pasien titipan. Vital sign semua, mengecek apa saja yang perlu dikoreksi, kesadaran, dan sebagainya. Kalau sudah, baru mulai mengerjakan titipan-titipan serta pesan-pesan untuk masing-masing pasien.
Suatu saat, ketika jaga, kebetulan ada waktu senggang dan kondisi pasien stabil (jelas stabl, yang gawat sudah "gone" T_T), DM (dokter muda)jaga ngobrol-ngobrol dengan perawat.
Perawat (P): "DM, pasien itu lho, pasien baru ya?"
DM (D): "Iya, Mbak, baru masuuk tadi pagi"
P: "Pantes. Masa, tadi dari kamar mandi infusnya dilepas".
D: "Dilepas gimana, Mbak? Darahnya ke mana-mana donk?"
P: "Bukan dilepas yang ke venflonnya. Dia ngelepas selang infus yang nancep ke botol infus itu lho".
D: "Lho? Kok ngelepas yang itu seh?"
P: "Iya, diajari anaknya waktu tadi pagi katanya. Masa gak tau kalau yang dilepas tu gantungannya, bukan selang infusnya".
DM jaga menjadi penasaran apa yang akan dilakukan si pasien kalo dipasang selang untuk lavament.
Suatu saat, ketika jaga, kebetulan ada waktu senggang dan kondisi pasien stabil (jelas stabl, yang gawat sudah "gone" T_T), DM (dokter muda)jaga ngobrol-ngobrol dengan perawat.
Perawat (P): "DM, pasien itu lho, pasien baru ya?"
DM (D): "Iya, Mbak, baru masuuk tadi pagi"
P: "Pantes. Masa, tadi dari kamar mandi infusnya dilepas".
D: "Dilepas gimana, Mbak? Darahnya ke mana-mana donk?"
P: "Bukan dilepas yang ke venflonnya. Dia ngelepas selang infus yang nancep ke botol infus itu lho".
D: "Lho? Kok ngelepas yang itu seh?"
P: "Iya, diajari anaknya waktu tadi pagi katanya. Masa gak tau kalau yang dilepas tu gantungannya, bukan selang infusnya".
DM jaga menjadi penasaran apa yang akan dilakukan si pasien kalo dipasang selang untuk lavament.
Wednesday, December 23, 2009
Mensyukuri Masalah
Ketika mendapat masalah, orang sering mengeluh. Muka yang kemarin-kemarin ceria, menjadi tertekuk. Senyum yang biasanya mengembang,berubah jadi mengerucut. Kalau kemarin digoda, hanya tertawa dan membalas, jangan coba menggoda sekarang. Bisa-bisa digigit kamu.
Ketika mendapat masalah, seringkali orang berpikir kenapa bisa begini? Kok susah sekali mencari jalan keluarnya, atau mengapa masalahnya begitu berat? Ketika sedang tertimpa masalah, orang melirik iri pada orang lain yang tertawa-tawa. "Enaknya hidup dia, tanpa beban. Tidak seperti saya". Sebagian besar orang akan mengeluh ketika mendapat masalah. Tidak perlu ada masalah, menjalani rutinitas yang biasa-biasa saja, orang juga suka mengeluh kok.
Manusia seperti sulit mengerti makna bersyukur. Bersyukur bukan hanya mengucapkan "Puji Tuhan", "Syukurlah", atau "Alhamdulillah" ketika mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Tetapi bagaimana tetap memuji Yang Di Atas ketika kita dirundung masalah.
Apa yang bisa disyukuri dari sebuah masalah?
Saya percaya bahwa segala hal bisa dilihat dari berbagai sisi. Masalah mungkin memberikan batu sandungan dalam hidup kita, tapi karena masalah itu ada, kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Masalah mungkin membuat kita terpuruk, namun kita menjadi tahu bahwa orang-orang di sekitar kita peduli. Mereka mengulurkan tangannya untuk membantu kita bangkit dari keterpurukan. Masalah mungkin membuat kita berhenti beraktivitas, namun mungkin kita menjadi bisa merenungkan apa-apa saja yang perlu kita perbaiki. Bila kita mampu melihat masalah dari sisi yang demikian, bukankah sebenarnya kita layak bersyukur?
Hidup itu penuh warna, tak hanya hitam atau putih. Semuanya kembali kepada kita, apakah kita mau melihat dan menikmati warna-warni itu, atau hanya terpaku pada hitam dan putih saja.
Hidup dengan penuh rasa syukur menjadikan kita kaya karena dengan bersyukur kita tak pernah kekurangan.
Ketika mendapat masalah, seringkali orang berpikir kenapa bisa begini? Kok susah sekali mencari jalan keluarnya, atau mengapa masalahnya begitu berat? Ketika sedang tertimpa masalah, orang melirik iri pada orang lain yang tertawa-tawa. "Enaknya hidup dia, tanpa beban. Tidak seperti saya". Sebagian besar orang akan mengeluh ketika mendapat masalah. Tidak perlu ada masalah, menjalani rutinitas yang biasa-biasa saja, orang juga suka mengeluh kok.
Manusia seperti sulit mengerti makna bersyukur. Bersyukur bukan hanya mengucapkan "Puji Tuhan", "Syukurlah", atau "Alhamdulillah" ketika mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Tetapi bagaimana tetap memuji Yang Di Atas ketika kita dirundung masalah.
Apa yang bisa disyukuri dari sebuah masalah?
Saya percaya bahwa segala hal bisa dilihat dari berbagai sisi. Masalah mungkin memberikan batu sandungan dalam hidup kita, tapi karena masalah itu ada, kita menjadi lebih kuat dan dewasa. Masalah mungkin membuat kita terpuruk, namun kita menjadi tahu bahwa orang-orang di sekitar kita peduli. Mereka mengulurkan tangannya untuk membantu kita bangkit dari keterpurukan. Masalah mungkin membuat kita berhenti beraktivitas, namun mungkin kita menjadi bisa merenungkan apa-apa saja yang perlu kita perbaiki. Bila kita mampu melihat masalah dari sisi yang demikian, bukankah sebenarnya kita layak bersyukur?
Hidup itu penuh warna, tak hanya hitam atau putih. Semuanya kembali kepada kita, apakah kita mau melihat dan menikmati warna-warni itu, atau hanya terpaku pada hitam dan putih saja.
Hidup dengan penuh rasa syukur menjadikan kita kaya karena dengan bersyukur kita tak pernah kekurangan.
Wednesday, December 9, 2009
AKU
Hidup atau mati, Tuhan yang mengatur. Tetapi tentu semua orang berharap meninggal dengan cara yang baik. Baik dalam artian yang wajar-wajar saja. Gak perlu seheboh Oom Michael Jackson atau sedahsyat jadi korban kecelakaan Titanic.
Stase di Forensik membuat saya berpikir bagaimana nanti jika saya meninggal? Ketika melihat jenazah-jenazah itu, saya merasakan ketidakberdayaan. Mungkin manusia memang dirancang seperti itu ya? Mengawali dan mengakhiri hidupnya dalam ketidakberdayaan.
Seorang bayi yang baru lahir, tidak berdaya menghadapi dunia sendirian, karena itu tangan seorang ibu terulur untuk merawatnya. Saat meninggal, manusia tak mampu mengurus sendiri kematiannya. Serem ya kalau ada jenazah menggali lubang kuburnya sendiri!
Kalau manusia setidak berdaya itu, mengapa harus selalu ada AKU? Apalah yang mampu dilakukan manusia seorang diri?
Mungkin ada orang yang memiliki segalanya, mungkin dia bekerja keras sedari muda dan memperoleh segalanya pada akhirnya. NAmun, benarkah itu karena dia seorang? Saya yakin itu karena Yang Di Atas yang memberikan berkat kepadanya.
Jadi masih haruskah menyombongkan ke-AKU-an?
Stase di Forensik membuat saya berpikir bagaimana nanti jika saya meninggal? Ketika melihat jenazah-jenazah itu, saya merasakan ketidakberdayaan. Mungkin manusia memang dirancang seperti itu ya? Mengawali dan mengakhiri hidupnya dalam ketidakberdayaan.
Seorang bayi yang baru lahir, tidak berdaya menghadapi dunia sendirian, karena itu tangan seorang ibu terulur untuk merawatnya. Saat meninggal, manusia tak mampu mengurus sendiri kematiannya. Serem ya kalau ada jenazah menggali lubang kuburnya sendiri!
Kalau manusia setidak berdaya itu, mengapa harus selalu ada AKU? Apalah yang mampu dilakukan manusia seorang diri?
Mungkin ada orang yang memiliki segalanya, mungkin dia bekerja keras sedari muda dan memperoleh segalanya pada akhirnya. NAmun, benarkah itu karena dia seorang? Saya yakin itu karena Yang Di Atas yang memberikan berkat kepadanya.
Jadi masih haruskah menyombongkan ke-AKU-an?
Monday, November 30, 2009
Membayangkan apa yang terjadi kalau:
1. Anak kecil lagi nyeberang jalan, terus kita kagetin tiba-tiba.
2. Temen lagi serius anamnesa terus dikagetin, padahal dia latah. Bagian dari anamnesa yang manakah yang akan dia ulang-ulang?
3. Dateng jaga pake piyama.
4. Gangguin bibik kost pura-pura ada yang mencet bel waktu pulang kuliah.
5. Ada yang mempraktekkan empat poin di atas.
*Sedang iseng binti nganggur*
1. Anak kecil lagi nyeberang jalan, terus kita kagetin tiba-tiba.
2. Temen lagi serius anamnesa terus dikagetin, padahal dia latah. Bagian dari anamnesa yang manakah yang akan dia ulang-ulang?
3. Dateng jaga pake piyama.
4. Gangguin bibik kost pura-pura ada yang mencet bel waktu pulang kuliah.
5. Ada yang mempraktekkan empat poin di atas.
*Sedang iseng binti nganggur*
Subscribe to:
Posts (Atom)