Di koridor rumah sakit lantai II
A: "Ayo berangkat ke saraf, ntar kelamaan tunggu-tungguan" *mengajak C*
C: "Ayo wis"
B: "Aku juga ikut...Aku juga mau ke sana"
A, B, C menuruni tangga ke lantai I. B tiba-tiba berbelok ke arah yang berbeda.
C: "Kamu mau ke mana? Saraf kan arahnya ke situ?"
B: "Lho? Kalian mau ke Urika kan?"
A: *tak mampu berkata-kata*
C: "Lha, tadi kamu bilang mau ke sana juga tu ke mana? Lha kita mau ke saraf kok bilangnya"
B: "Aku nyambungnya kalian mau ke Urika"
A dan C merasa B perlu diperiksakan sekalian ke saraf.
Sunday, August 22, 2010
Pasti Bandengnya Bule
Suatu siang di kantin Rumah Sakit.
A: "Kamu makan apa?"
B: "Nasi goreng putih"
A: "Lho? Tadi aku mau pesen itu kata ibunya gak jual gitu"
B: "He?! Aku pesen itu kok. Ada tuh" *nada yakin*
Maka DM A menghampiri si ibu
A: "Bu, nasi gorengnya ada ya? Temen saya katanya pesen itu"
Ibu: *menatap dengan wajah bingung* "Temennya tadi pesen bandeng gitu?"
B tiba-tiba datang menghampiri
B: "Iya seh, aku pesen bandeng tadi. Mau pesen nasi goreng gak ada, makanya pesen bandeng"
Jangan-jangan selama ini si B makan bandeng goreng putih? Bandeng bule :P
A: "Kamu makan apa?"
B: "Nasi goreng putih"
A: "Lho? Tadi aku mau pesen itu kata ibunya gak jual gitu"
B: "He?! Aku pesen itu kok. Ada tuh" *nada yakin*
Maka DM A menghampiri si ibu
A: "Bu, nasi gorengnya ada ya? Temen saya katanya pesen itu"
Ibu: *menatap dengan wajah bingung* "Temennya tadi pesen bandeng gitu?"
B tiba-tiba datang menghampiri
B: "Iya seh, aku pesen bandeng tadi. Mau pesen nasi goreng gak ada, makanya pesen bandeng"
Jangan-jangan selama ini si B makan bandeng goreng putih? Bandeng bule :P
Tuesday, August 17, 2010
Timbal Balik
Hargailah orang lain seperti kamu ingin dihargai. Mengertilah, sebelum kamu meminta dimengerti. Bisa membayangkan kalau setiap individu dengan sadar melakukan hal tersebut? Saya kira segala perselisihan atau pertengkaran bisa diminimalkan dan dunia akan menjadi lebih damai.
Hubungan antar manusia itu katanya horizontal. Berada pada satu garis lurus, menyetarakan makhluk hidup yang berjudul manusia dalam satu tingkatan derajat yang sama, tanpa embel-embel harta ataupun takhta. Juga bagaikan arus listrik AC, interaksi antar manusia ini menimbulkan arus bolak-balik. A akan merespons ketika B memukulnya, pun C mungkin akan tertawa ketika D melempar lelucon yang lucu. Bahkan ada yang bilang, dia tidak akan menggigit kalau tidak digigit duluan.
Bagaimana kita memperlakukan orang lain, kira-kira begitulah orang lain memperlakukan kita. Lalu mengapa begitu banyak orang mengeluh karena orang-orang di sekitarnya tidak sebaik yang dia harapkan? Salah lingkungannya kah? Atau justru sebenarnya dirinya yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sehingga seakan-akan seisi dunia memusuhinya? *lebai mode*
Saya terkadang terlalu cepat mencap seseorang itu menyebalkan, padahal mungkin saat itu diri saya yang salah karena tidak bersikap ramah padanya. Ya, seringkali, saya melihat orang mudah menjadi sebal karena sikap orang lain kepada dirinya, yang sebenarnya merupakan respons dari sikapnya terhadap orang tersebut. Jadi, sebelum menuduh orang lain yang salah atau menyebalkan, mengapa kita tidak bercermin dulu? Melihat apakah faktor yang salah itu pada diri kita, atau memang dirinya yang menyebalkan?
Kalapun memang orang tersebut yang menyebalkan, mengapa kita tidak mencoba bersikap baik lebih dulu kepada dirinya? Saya percaya kebaikan itu memiliki sifat kohesif yang kuat, dia akan menarik kebaikan-kebaikan yang lain, begitu ia mulai diteteskan. Lagipula, bukankah kebanyakan orang di dunia ini berjiwa bisnis? Seberapa yang kamu beri, sebesar itulah yang akan kamu dapat.
-Mencoba memulai hari dengan kebaikan yang sederhana, sebuah senyum tulus-
Hubungan antar manusia itu katanya horizontal. Berada pada satu garis lurus, menyetarakan makhluk hidup yang berjudul manusia dalam satu tingkatan derajat yang sama, tanpa embel-embel harta ataupun takhta. Juga bagaikan arus listrik AC, interaksi antar manusia ini menimbulkan arus bolak-balik. A akan merespons ketika B memukulnya, pun C mungkin akan tertawa ketika D melempar lelucon yang lucu. Bahkan ada yang bilang, dia tidak akan menggigit kalau tidak digigit duluan.
Bagaimana kita memperlakukan orang lain, kira-kira begitulah orang lain memperlakukan kita. Lalu mengapa begitu banyak orang mengeluh karena orang-orang di sekitarnya tidak sebaik yang dia harapkan? Salah lingkungannya kah? Atau justru sebenarnya dirinya yang tidak menyadari kesalahannya sendiri sehingga seakan-akan seisi dunia memusuhinya? *lebai mode*
Saya terkadang terlalu cepat mencap seseorang itu menyebalkan, padahal mungkin saat itu diri saya yang salah karena tidak bersikap ramah padanya. Ya, seringkali, saya melihat orang mudah menjadi sebal karena sikap orang lain kepada dirinya, yang sebenarnya merupakan respons dari sikapnya terhadap orang tersebut. Jadi, sebelum menuduh orang lain yang salah atau menyebalkan, mengapa kita tidak bercermin dulu? Melihat apakah faktor yang salah itu pada diri kita, atau memang dirinya yang menyebalkan?
Kalapun memang orang tersebut yang menyebalkan, mengapa kita tidak mencoba bersikap baik lebih dulu kepada dirinya? Saya percaya kebaikan itu memiliki sifat kohesif yang kuat, dia akan menarik kebaikan-kebaikan yang lain, begitu ia mulai diteteskan. Lagipula, bukankah kebanyakan orang di dunia ini berjiwa bisnis? Seberapa yang kamu beri, sebesar itulah yang akan kamu dapat.
-Mencoba memulai hari dengan kebaikan yang sederhana, sebuah senyum tulus-
Tuesday, June 15, 2010
Logika dan Spiritualitas
Mengapa religiusitas seseorang dinilai akan mempengaruhi logikanya? Apakah seseorang yang religius hanya akan berdoa sepanjang hari untuk menghasilkan materi di depan mata? Saya kira religiusitas seseorang bukan alasan untuk menjadi tidak logis.
Saya kira sangat logis ketika seseorang percaya dan yakin bahwa Tuhannya akan menyelamatkannya. Saya kira tidak ada yang salah ketika seseorang dalam kesulitan, kesesakan yang teramat sangat, memohon bantuan pada Tuhannya. Saya kira semua agama meyakini bahwa Dia menyayangi umat-Nya dan menyediakan pertolongan bagi mereka yang berseru kepada-Nya. Lalu mengapa harus mengatakan orang-orang yang religius tidak mampu melihat realitas?
Jika ada seseorang yang berseru memohon pertolongan Tuhan, namun dia tidak melakukan usaha apapun; baiklah saya akan mengatakan dia pemalas. Ketika seseorang tidak mau berobat walaupun memiliki uang untuk pergi ke dokter dan mendapat pengobatan terbaik sementara dia justru makin merusak kesehatan dirinya dengan mengharapkan mukjizat Tuhan yang akan menyembuhkannya; baiklah saya katakan dia tidak realistis karena menyia-nyiakan apa yang sudah disediakan Tuhan baginya.
Namun, sungguh, saya tidak mengerti mengapa seseorang harus menghubungkan religiusitas seseorang dengan kemampuan orang tersebut melihat realita hidup. Mungkin uang sudah menjadi tuhan baru dalam dunia modern ini. Tapi layakkah segalanya diukur dengan uang? Layakkah kemampuan melihat realita hidup diukur dengan seberapa banyak uang yang mampu dihasilkan?
Saya percaya bahwa Dia Yang Di Atas itu tidak pernah tidur. Dia melihat tiap-tiap orang dan usahanya. Mungkin yang hidupnya lurus di mata-Nya dan bekerja sepenuh hati bergaji pas-pasan. Sementara mereka yang menipu dan melakukan korupsi hidup bergelimang harta. Apakah ini berarti kelompok yang pertama tidak realistis? Apakah ketika kita tetap bekerja dengan sepenuh hati, hidup benar di mata-Nya, dan percaya bahwa Dia akan memelihara kita, berarti kita telah menjadi manusia yang tidak realistis?
Saya tahu bagaimana sulitnya hidup tanpa uang di zaman sekarang ini. Saya tahu bahwa uang hampir menjadi jawaban untuk menyelesaikan segala permasalahan di dunia ini. Ketika dunia menjadi makin tamak, makin culas, makin kejam, uang adalah solusi yang tercepat. Namun layakkah hal itu menjadikan uang sebagai tuhan baru bagi manusia modern?
Dia memiliki cara-Nya sendiri. Pertolongan-Nya tak pernah terlambat. Namun, maukah kita bertahan dalam pengharapan kepada-Nya? Maukah kita tetap setia pada iman dan berserah kepada-Nya? Atau justru mengikuti arus dan memuja tuhan-tuhan baru yang menjanjikan kemudahan duniawi?
Iman adalah mempercayai adanya terang ketika berada dalam kegelapan (lupa dikutip dari mana).
Tuhan, mampukan saya tetap menaruh pengharapan kepada-Mu, berserah pada-Mu saja dan tidak menjadi hamba-hamba uang. Didiklah saya agar tetap setia ketika berada dalam kesukaran, ketika dalam kebahagiaan, bahkan ketika merasa doa-doa saya tidak Engkau dengar. Ajar saya, Tuhan, untuk selalu mencari terang-Mu. Amien.
Saya kira sangat logis ketika seseorang percaya dan yakin bahwa Tuhannya akan menyelamatkannya. Saya kira tidak ada yang salah ketika seseorang dalam kesulitan, kesesakan yang teramat sangat, memohon bantuan pada Tuhannya. Saya kira semua agama meyakini bahwa Dia menyayangi umat-Nya dan menyediakan pertolongan bagi mereka yang berseru kepada-Nya. Lalu mengapa harus mengatakan orang-orang yang religius tidak mampu melihat realitas?
Jika ada seseorang yang berseru memohon pertolongan Tuhan, namun dia tidak melakukan usaha apapun; baiklah saya akan mengatakan dia pemalas. Ketika seseorang tidak mau berobat walaupun memiliki uang untuk pergi ke dokter dan mendapat pengobatan terbaik sementara dia justru makin merusak kesehatan dirinya dengan mengharapkan mukjizat Tuhan yang akan menyembuhkannya; baiklah saya katakan dia tidak realistis karena menyia-nyiakan apa yang sudah disediakan Tuhan baginya.
Namun, sungguh, saya tidak mengerti mengapa seseorang harus menghubungkan religiusitas seseorang dengan kemampuan orang tersebut melihat realita hidup. Mungkin uang sudah menjadi tuhan baru dalam dunia modern ini. Tapi layakkah segalanya diukur dengan uang? Layakkah kemampuan melihat realita hidup diukur dengan seberapa banyak uang yang mampu dihasilkan?
Saya percaya bahwa Dia Yang Di Atas itu tidak pernah tidur. Dia melihat tiap-tiap orang dan usahanya. Mungkin yang hidupnya lurus di mata-Nya dan bekerja sepenuh hati bergaji pas-pasan. Sementara mereka yang menipu dan melakukan korupsi hidup bergelimang harta. Apakah ini berarti kelompok yang pertama tidak realistis? Apakah ketika kita tetap bekerja dengan sepenuh hati, hidup benar di mata-Nya, dan percaya bahwa Dia akan memelihara kita, berarti kita telah menjadi manusia yang tidak realistis?
Saya tahu bagaimana sulitnya hidup tanpa uang di zaman sekarang ini. Saya tahu bahwa uang hampir menjadi jawaban untuk menyelesaikan segala permasalahan di dunia ini. Ketika dunia menjadi makin tamak, makin culas, makin kejam, uang adalah solusi yang tercepat. Namun layakkah hal itu menjadikan uang sebagai tuhan baru bagi manusia modern?
Dia memiliki cara-Nya sendiri. Pertolongan-Nya tak pernah terlambat. Namun, maukah kita bertahan dalam pengharapan kepada-Nya? Maukah kita tetap setia pada iman dan berserah kepada-Nya? Atau justru mengikuti arus dan memuja tuhan-tuhan baru yang menjanjikan kemudahan duniawi?
Iman adalah mempercayai adanya terang ketika berada dalam kegelapan (lupa dikutip dari mana).
Tuhan, mampukan saya tetap menaruh pengharapan kepada-Mu, berserah pada-Mu saja dan tidak menjadi hamba-hamba uang. Didiklah saya agar tetap setia ketika berada dalam kesukaran, ketika dalam kebahagiaan, bahkan ketika merasa doa-doa saya tidak Engkau dengar. Ajar saya, Tuhan, untuk selalu mencari terang-Mu. Amien.
Saturday, April 3, 2010
Toleransi
Toleransi, sebuah kata yang sudah sering didengungkan sejak di bangku SD. Masih ingatkah bagian dari pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) ataupun PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang menekankan perlunya toleransi antar umat beragama? Berapa banyakkah yang masih ingat?
Saya ingin membuat Bonek-bonek yang bertebaran di jalan raya tadi untuk belajar pada anak SD tentang apa itu toleransi. Bagaimana mereka harus bersikap sebagai manusia dewasa yang memiliki toleransi. Bagimana mereka harus menggunakan hak tanpa mengganggu kepentingan orang lain.
Saya sangat jengkel pada Bonek yang bertebaran di Surabaya hari ini. Ketika jam misa akan dimulai, Bonek-Bonek itu dengan sengaja mengeraskan suara mesin motornya. Belum lagi mereka yang membawa terompet, meniupnya beberapa kali. Bahkan beberapa dengan sengaja meneriakkan ********** ketika melewati gereja.
Begitukah cara mereka meluapkan dukungan? Baiklah mereka bersemangat mendukung team sepakbolanya, tapi tidak bisakah mereka bersikap lebih dewasa? Bagaimana rasanya jika keramaian itu dipindahkan di tempat mereka beribadah, ketika mereka sedang merayakan hari besar agamanya?
Mungkin masyarakat ini masih butuh belajar tentang toleransi lebih dalam lagi.
Selamat Paskah. Tuhan memberkati...
Saya ingin membuat Bonek-bonek yang bertebaran di jalan raya tadi untuk belajar pada anak SD tentang apa itu toleransi. Bagaimana mereka harus bersikap sebagai manusia dewasa yang memiliki toleransi. Bagimana mereka harus menggunakan hak tanpa mengganggu kepentingan orang lain.
Saya sangat jengkel pada Bonek yang bertebaran di Surabaya hari ini. Ketika jam misa akan dimulai, Bonek-Bonek itu dengan sengaja mengeraskan suara mesin motornya. Belum lagi mereka yang membawa terompet, meniupnya beberapa kali. Bahkan beberapa dengan sengaja meneriakkan ********** ketika melewati gereja.
Begitukah cara mereka meluapkan dukungan? Baiklah mereka bersemangat mendukung team sepakbolanya, tapi tidak bisakah mereka bersikap lebih dewasa? Bagaimana rasanya jika keramaian itu dipindahkan di tempat mereka beribadah, ketika mereka sedang merayakan hari besar agamanya?
Mungkin masyarakat ini masih butuh belajar tentang toleransi lebih dalam lagi.
Selamat Paskah. Tuhan memberkati...
Saturday, February 13, 2010
Untung Masih Hidup
Kejadian menjelang Morning Report ko-ass.
A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa jantungmu. Besok ya takbalikin, tadi lupa takmasukin tas"
B: "Ow, iya gak apa-apa, besok jangan lupa ya"
Dipandang oleh sejawat ko-ass yang ingin tahu bagaimana B bisa hidup tanpa jantung.
*Maksud ucapan A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa buku jantung punyamu,..."
A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa jantungmu. Besok ya takbalikin, tadi lupa takmasukin tas"
B: "Ow, iya gak apa-apa, besok jangan lupa ya"
Dipandang oleh sejawat ko-ass yang ingin tahu bagaimana B bisa hidup tanpa jantung.
*Maksud ucapan A: "Eh, sorry ya...Aku lupa bawa buku jantung punyamu,..."
Sunday, January 17, 2010
Untung Bukan Lavement
Kalau sedang jaga, tentu yang dikerjakan pertama adalah mengecek pasien-pasien titipan. Vital sign semua, mengecek apa saja yang perlu dikoreksi, kesadaran, dan sebagainya. Kalau sudah, baru mulai mengerjakan titipan-titipan serta pesan-pesan untuk masing-masing pasien.
Suatu saat, ketika jaga, kebetulan ada waktu senggang dan kondisi pasien stabil (jelas stabl, yang gawat sudah "gone" T_T), DM (dokter muda)jaga ngobrol-ngobrol dengan perawat.
Perawat (P): "DM, pasien itu lho, pasien baru ya?"
DM (D): "Iya, Mbak, baru masuuk tadi pagi"
P: "Pantes. Masa, tadi dari kamar mandi infusnya dilepas".
D: "Dilepas gimana, Mbak? Darahnya ke mana-mana donk?"
P: "Bukan dilepas yang ke venflonnya. Dia ngelepas selang infus yang nancep ke botol infus itu lho".
D: "Lho? Kok ngelepas yang itu seh?"
P: "Iya, diajari anaknya waktu tadi pagi katanya. Masa gak tau kalau yang dilepas tu gantungannya, bukan selang infusnya".
DM jaga menjadi penasaran apa yang akan dilakukan si pasien kalo dipasang selang untuk lavament.
Suatu saat, ketika jaga, kebetulan ada waktu senggang dan kondisi pasien stabil (jelas stabl, yang gawat sudah "gone" T_T), DM (dokter muda)jaga ngobrol-ngobrol dengan perawat.
Perawat (P): "DM, pasien itu lho, pasien baru ya?"
DM (D): "Iya, Mbak, baru masuuk tadi pagi"
P: "Pantes. Masa, tadi dari kamar mandi infusnya dilepas".
D: "Dilepas gimana, Mbak? Darahnya ke mana-mana donk?"
P: "Bukan dilepas yang ke venflonnya. Dia ngelepas selang infus yang nancep ke botol infus itu lho".
D: "Lho? Kok ngelepas yang itu seh?"
P: "Iya, diajari anaknya waktu tadi pagi katanya. Masa gak tau kalau yang dilepas tu gantungannya, bukan selang infusnya".
DM jaga menjadi penasaran apa yang akan dilakukan si pasien kalo dipasang selang untuk lavament.
Subscribe to:
Posts (Atom)